Mengapa penemuan-penemuan yang kita manfaatkan
sekarang jarang dari seorang muslim? Lampu, listrik, komputer, gadget bahkan
aplikasi whatsapp (WA) yang sering kita gunakan sekarang tak satupun berasal
dari penemuan seorang muslim. Apa peranan islam dalam peradaban manusia?
Padahal kita selalu mengatakan islam adalah agama yg sempurna. dimanakah
kesempurnaan itu?
Salah satu hal yang mendasar menjadi penyebabnya
adalah dikotomi dalam dunia pendidikan di kalangan islam. Adanya anggapan
mempelajari ilmu agama, hadist dan sebagainya jauh lebih mulia dibandingkan
ilmu kedokteran, fisika atau keilmuan lainnya. Kita menemukan orang tua
berbondong2 memasukkan anaknya menjadi santri dan mendalami ilmu agama.
Pertanyaannya adalah, apakah ilmu kedokteran, fisika, komputer bukan ilmu islam
atau ilmu yang dibolehkan dalam islam?
Saya ingin bercerita ttng seorang ulama besar dari
mesir bernama Yusuf al-Qaradawi. Beliau adalah cendekiawan muslim yang
dikenal sebagai seorang Mujtahid pada era modern ini. Beliau juga
seorang ketua majelis fatwa. Banyak dari fatwa yang telah dikeluarkan digunakan
sebagai bahan Referensi atas dunia islam kontemporer. Qardhawi memiliki tujuh
anak. Empat putri dan tiga putra. Sebagai seorang ulama beliau sangat
membebaskan anaknya baik laki2 maupun perempuan untuk menuntut ilmu sesuai
minatnya. Tidak ada perbedaan antara anak laki dan perempuan. Tidak ada
perbedaan dalam memilih ilmu yang diminati anak2nya.
Salah seorang putrinya memperoleh gelar doktor fisika
dalam bidang nuklir dari Inggris. Putri keduanya memperoleh gelar doktor dalam
bidang kimia juga dari Inggris, dan yang ketiga masih menempuh S3. Sedangkan
anak yang keempat telah menyelesaikan pendidikan S1-nya di Universitas Texas
Amerika. Anak laki-laki yang pertama menempuh S3 dalam bidang teknik
elektro di Amerika, yang kedua belajar di Universitas Darul Ulum Mesir.
Sedangkan yang bungsu telah menyelesaikan kuliahnya pada fakultas teknik
jurusan listrik.
Kita bisa menilai pandangan beliau terhadap pendidikan
modern. Dari tujuh anaknya, hanya satu yang belajar di Universitas Darul Ulum
Mesir dan menempuh pendidikan khusus agama islam. Sedangkan yang lainnya,
mengambil pendidikan umum dan semuanya ditempuh di luar negeri.
Qardhawi merupakan seorang ulama yang menolak
pembagian ilmu secara dikotomis. Semua ilmu bisa islami dan tidak islami,
tergantung kepada orang yang memandang dan mempergunakannya. Pemisahan ilmu
secara dikotomis itu, menurut Qardhawi, telah menghambat kemajuan umat Islam.
Adalah benar bahwa anak kita perlu bekal pendidikan
dasar agama tapi tidak berarti mereka semua harus menjadi ahli tafsir, ahli
hadist, ahli fikih dan sebagainya. Karena pada dasarnya semua ilmu adalah ilmu
islami tergantung bagaimana kita mempergunakannya. Mungkin mereka akan menjadi
dokter muslim ahli bedah yang hebat, astronot muslim yg hebat, atau programmer
penemu aplikasi aplikasi yg banyak bermanfaat sperti halnya whatsapp, facebook
dan lainnya di masa mendatang. Berhentilah untuk membeda-bedakan ilmu agama dan
ilmu dunia atau kita kedepannya akan lebih jauh tertinggal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar