Sejak
bulan maret 2015, saya mulai bekerja di sebuah rumah sakit di Jakarta. Seperti
biasanya, setiap dokter yang akan melakukan praktik kedokteran harus melakukan
serangkaian tes untuk memastikan dokter tersebut dalam kondisi siap berpraktik
kepada pasien.
Ada salah satu tes yang menarik, namanya tes MMPI. Anak kedokteran pasti tahu tes ini. Saya belum pernah mengikuti tes ini sebelumnya meskipun sebagai dokter saya tahu tentang tes ini. Tes MMPI itu tes psikologi yang digunakan untuk proses diagnosa gangguan jiwa oleh psikiater. Tesnya berupa pertanyaan dengan jawaban setuju atau tidak setuju yang bisa menghabiskan waktu sampai 2 jam. Lumayan lama.
Ada salah satu tes yang menarik, namanya tes MMPI. Anak kedokteran pasti tahu tes ini. Saya belum pernah mengikuti tes ini sebelumnya meskipun sebagai dokter saya tahu tentang tes ini. Tes MMPI itu tes psikologi yang digunakan untuk proses diagnosa gangguan jiwa oleh psikiater. Tesnya berupa pertanyaan dengan jawaban setuju atau tidak setuju yang bisa menghabiskan waktu sampai 2 jam. Lumayan lama.
Saya ikut
tes MMPI ini dua kali, tes yang pertama dibatalkan karena tidak terbaca oleh
psikiater, entah karena apa penyebabnya. Katanya teman yang lain, mungkin saya
agak lebay mengisinya, tidak konsisten, cenderung untuk tidak jujur atau
bisa saja karena tidak konsentrasi pada saat tes. Saya cuma bisa pasrah, dua
jam terbuang sia-sia. Terpaksa deh ikut tes lagi. Kali ini saya kerjakan tes
secara baik-baik, saya isi sesuai diri saya yang sebenarnya berharap nanti tes
keluar apa adanya.
Sampailah
dimana seluruh tes akan diumumkan, tes kompetensi, tes psiko dan tes MMPI. Saya
cuma penasaran dengan tes MMPI ini, karena yang lainnya sepertinya no problem. Psikiater
membacakan hasil tes MMPI di depan dokter-dokter komite medik. Dia bilang
indeks kapasitas mental, profil klinis dan indeks kepribadian dasar saya bagus
dan tidak ada masalah, saya bisa mendapatkan kewenangan klinik untuk
berpraktik. Tapi tiba-tiba psikiater bertanya kepada saya:
“Apa kamu
suka keindahan, suka bunga-bunga, suka warna-warni”.
Saya cuma
tersenyum. “iya, saya suka yang indah-indah, warna-warni, bukannya semua orang
suka indah-indah”, bisikku dalam hati.
“Kamu
mempunyai nilai feminisme yang tinggi” lanjut psikiater.
Apa…?
Saya Feminin..? Saya kaget dan langsung tertawa terbahak-bahak, semua dokter
penguji dalam ruangan juga ikut bergumuruh. “apa iya saya cowok feminin?”
rasanya saya ingin muntah mendengarnya. “jangan sampai deh, amit-amit”. Saya
cowok tulen kok. Cowok feminin itu kan identik dengan bencong, waria atau pria
penyuka sesame jenis. Tidaklah yah, saya tidak seperti itu. Masa saya mau
disamakan dengan pria ayu yang selalu berkostum norak, pakai rok diatas paha,
pakai baju ketat sambil umbar pusar. Ditambah lagi bibir semerah dan se-hot
cabe rawit serta make up setebal tembok besar China. Perasaan saya tidak punya
ketertarikan sama sekali ke sesama jenis. Buktinya, saya punya istri seorang
wanita (bukan pria) dan sebentar lagi dengan izin Tuhan punya anak yang kedua.
Bicara
soal cowok feminim, Ada hal menarik nih, ternyata berdasarkan riset jurnal
hormones and behavior, cowok feminim yang sering disebut sindrom klinefelter
ini justeru memiliki nafsu seksual yang tak terpuaskan dan sangat buas di
ranjang. Makanya jangan pernah meremehkan cowok feminim. Waspadalah… Hehehe..
#tulisan
iseng
Tidak ada komentar:
Posting Komentar