Aku dan teman-temanku masih berkumpul di Laboratorium Terpadu. Hari ini kami akan pulang agak terlambat, setidaknya itu yang aku baca dari jadwal kegiatan.
Aku sudah lupa ini materi yang keberapa, yang kupikirkan sekarang kapan kegiatan ini selesai, kubayangkan untuk segera balik ke kos dan langsung tidur sepuasnya. Rasanya sudah tidak sanggup lagi, Tiga hari ini betul-betul menguras, puncaknya hari ini karena banyak sekali kegiatan fisik di lapangan.
Ospek maba fakultas kedokteran Unhas kali ini begitu berkesan, yah karena aku salah seorang pesertanya. Hehehe. Kostum yang dikenakan lumayan unik, baju kaos bertuliskan sars, celana bahan karung terigu yang dicat warna hijau kuning, sebuah tongkat dan terakhir potongan rambut ala Ronaldo de lima, bintang sepakbola Brasil. Potongan rambutku persis potongan rambut bintang sepak bola yang terkenal era 90-an itu. Kepala gundul yang disisakan sedikit rambut pada bagian depan. Pernah juga ada serial sinetron di TV swasta yang pemeran utamanya punya cukur yang sama juga, Ronaldowati.
“Selamat malam adek-adek semua” Salah seorang senior berbicara. “Malam ini merupakan malam sakral kita, semua harus mengikuti kegiatan ini dengan khusyu’. Ini adalah akhir dari masa orientasi kita. Setiap maba akan dipanggil menuju sebuah ruangan dan dipandu oleh kakak-kakak senior panitia”
Kupandangi teman-temanku yang berdiri setelah namanya disebut, kapan namaku ini dipanggil. Sungguh membosankan.
“Cerebellum maju kedepan”
Eh, itu namaku. Setiap Maba punya nama baru selama kegiatan, namaku diganti cerebellum, istilah anatomi untuk bagian otak kecil bagian belakang. Akupun langsung maju ke depan, salah seorang kakak senior menutup kedua mataku dengan slayer. Betul-betul sangat gelap, lampu juga dimatikan. Cuma satu sumber cahaya, sebuah lilin yang diletakkan di depan sebuah ruangan. Aku disuruh berjalan menuju cahaya lilin itu. Wow, gelap sekali. Kenapa juga mesti tutup mata. Bulu kudukku mulai berdiri. Aku jadi merinding, kulangkahkan kakiku berjalan pelan menuju lilin, kedua tanganku kedepan seperti mau meraba. Akhirnya aku sampai di depan pintu sebuah ruangan. Bau apa ini, menyengat sekali. Perasaanku jadi tidak enak. Air mataku langsung keluar karena bau ini.
Tiba-tiba ada yang menyentuhku,
“Kamu nanti berjalan lurus kedepan, ikuti cahaya lilin di ruangan. Terus kamu periksa benda apa itu di meja” Bisik seseorang ditelingaku, sepertinya kakak senior.
Akupun berjalan masuk ruangan dengan mata tertutup, kakiku terhenti membentur benda, sepertinya kaki meja. Kuraba meja dengan pelan-pelan masih dengan mata tertutup. Benda apa ini, keras, masih basah, baunya menyengat sekali. Belum semua bagian kuraba dengan segera kubuka penutup mataku. Ahhh... Masya Allah, astagfirullah, astagfirullah... Aku mundur beberapa langkah kebelakang, sesosok mayat terbujur kaku di atas meja, masih basah, warnanya sudah agak hitam. Mayat perempuan yang baunya menyengat sekali, aku baru tahu bau formalin seperti ini. Baunya menyengat sekali, pertama mencium bau ini biasanya sampai meneteskan air mata. Tiba-tiba, ada bunyi langkah kaki mengarah kepadaku. Sepertinya kakak panitia.
“Selamat datang di ruang anatomi kita, di depan kamu terbaring mayat yang tidak lain adalah guru kita. Dari dialah kita akan banyak belajar. Beliau banyak menghasilkan lulusan-lulusan dokter terbaik di fakultas kita. Kamu akan banyak berinterkasi dengannya dan sudah sepantasnya kamu menghormatinya seperti halnya kamu menghormati kedua orang tuamu”
Aku hanya terdiam mendengar ceramah dari salah seorang senior. Jantungku masih berdebar-debar, bulu kudukku masih berdiri, keringat masih mengucur dari badanku. Lumayan sudah agak baikan setelah ada kakak senior datang dan berceramah.
“Di fakultas ini, kami sangat menghormati guru kita ini. Dilarang keras untuk bermain-main, tertawa atau banyak berbisik ketika bertemu dengan guru kita ini. Sebagai rasa hormat kita kepada guru kita ini, silakan anda mencium jidatnya guru kita”
Masa sih harus cium cidat. Perutku langsung mual mendengar kata-kata senior ini, otakku masih berfikir, mungkin kakak senior ini bercanda.
“Silakan anda mencium jidat guru kita” suara senior agak lebih keras
Tanpa banyak berfikir lagi, aku langsung kedepan meja, kubungkukkan badanku dan segea mencium singkat jidat mayat di depanku. Bibirku terasa basah, dingin, perutku terasa mules. Aku langsung menjauh ke sudut ruangan, kubersihkan bibirku dengan slayer ditanganku. gila ini, keperawanan bibirku terenggut dari sesosok mayat... oee.. oee...
Tak lama berselang, seorang maba berikutnya datang dengan mata tertutup juga. Kuperhatikan baik-baik, eh.. itu windri teman SMU ku yang juga sama-sama lulus di fakultas kedokteran. Sama halnya denganku, dia juga diberikan ceramah dan disuruh mencium jidat mayat. Dia mundur kebelakang, sepertinya dia menolak untuk melakukannya. Kakak senior menjadi marah dan segera maju ke dekat windri, dia memegang kepala windri dan membuatnya membungkuk mencium mayat. Ooeee...oeee, windri mencium bibirnya. Aku tambah mual melihatnya.
“ting.. ting.. ting...”
Bunyi lonceng sekolah berbunyi, waktu jam mengajarku habis.
“Anak-anak sekalian, itu pengalaman paling berkesan waktu ospek dulu. Pengalaman yang tidak bisa terlupakan. Hikmah ceritaku ini bukan pada ciuman cadavernya, tetapi sisi lain ajaran kakak senior untuk menghormati cadaver (mayat) sungguh luar biasa. Ajaran ini tertanam padaku sampai sekarang, ketika sudah menjadi dokter. Kalau kepada cadaver saja kita diajarkan untuk sungguh-sungguh menghormati dan memperlakukan dengan baik, tentu harusnya kita bisa berbuat lebih baik lagi kepada makhluk hidup di sekitar kita, kepada teman-teman kita, kepada orang sekitar kita, kepada tetangga, keluarga dan kepada pasien-pasien kita. Ayo siap-siap kita pulang, 2 minggu depan kita ujian semester, materi kita sudah selesai. Cerita tadi Cuma selingan saja”
“Assalamu alaiku warahmatullahi wabarakatuh”
“waalaikum salam warahmatullahi wabaraktuh” jawab anak-anak serentak.
Kuambil buku diatas meja dan segera beranjak tinggalkan kelas. Hari ini lumayan sudah mengajar 3 kelas. Tidak terasa sudah hampir 2 tahun aku mengabdi sebagai guru di SMK 1 Watunohu, isi waktu luang diantara rutinitas bekerja sebagai dokter PTT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar