Sebagai contoh Jerman yang memiliki sistem kesehatan universal yang baik dan tertua di dunia yang dimulai sejak tahun 1883 di era bismark. Sama halnya dengan jerman, francis juga termasuk negara dengan sistem kesehatan terbaik, bahkan pada tahun 2000, WHO memberikan posisi pertama sebagai negara dengan pelayanan kesehatan terbaik kepada warganya.
Beberapa kalangan kesehatan termasuk dari Ikatan
Dokter Indonesia sangat meragukan kesiapan pemerintah menjalankan SJSN, termasuk
meragukan kesiapan puskesmas dan tenaga kesehatan. di papua misalnya,
ketersediaan dokter puskesmas hanya 68%, belum lagi ketersediaan listrik dan
air bersih puskesmas yang hanya sekitar 35%. Untuk melayani penduduk indonesia
yang berjumlah 240 juta jiwa diperlukan 80 ribu dokter dengan penyebaran yang
merata sehingga rasio dokter per 100.000 penduduk adalah 33,3. Terkait jumlah
dokter di indonesia, Badan Pembangunan Nasional tahun 2012 menyebutkan rasio
ketersediaan dokter indonesia per 100.000 penduduk adalah 18,5. Dibandingkan
dengan rasio ideal untuk sistem SJSN tentu ini masih jauh dari harapan. Jika
membandingkan dengan negara lain juga sangat tertinggal, dengan Malaysia
misalnya yang mempunyai rasio 65,5 orang, kemudian jepang sebanyak 193,2 orang
dan australia 240 orang.
Kurangnya kesiapan pemerintah dikhawatirkan akan
membuat pelayanan kesehatan yang asal-asalan, tidak bermutu dan asal jadi. Pendanaan
yang sangat minim dijadikan beberapa pengamat sebagai penghambat utama
kelancaran SJSN. Pelayanan kesehatan yang bermutu tentu harus dibarengi dengan
ketersediaan obat yang berkualitas, peralatan kesehatan yang lengkap dan tenaga
kesehatan yang bekerja secara profesional.
Pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp 26 triliun untuk BPJS di
2014. Dengan alokasi sebesar ini, premi penerima bantuan iuran (PBI) adalah
sekitar Rp 15.500 per kapita per bulan, Rinciannya sekitar Rp 16,07 triliun
untuk penerima bantuan iuran (PBI), untuk Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan TNI
sekitar Rp 5 triliun-Rp 6 triliun dan sisanya untuk peningkatan sarana
pendukung lainnya. Anggaran untuk PBI sebesar Rp 16,07 triliun akan
dialokasikan untuk 86,4 juta penduduk, dengan besaran PBI masing-masing
penduduk Rp 15.500 per kapita per bulan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar