Kamis, 28 Maret 2013

Balada Dokter Kontrak

"...didesa dan dikota, bagiku sama saja, walaupun ditengah malam bagiku tugas tetap kujalankan. Andai aku bertugas diluar kota nanti, bagiku adalah soal biasa, sunyi dan sepi bukanlah suatu persoalan karena ini, karena ini kemanusiaan.."


Penggalan lagu balada dokter kontrak yang masih teringat sampai sekarang. Dulu waktu ospek aku setengah mati menghafalkan lagu ini dan setiap masuk ruangan memulai materi ospek dengan menyanyikan lagu ini. Waktu menjadi mahasiswa baru, saya tidak pernah peduli dengan isi liriknya. Sekarang, 10 tahun setelah itu baru bisa mendalami liriknya. Di tempat kerjaku sekarang, lagu ‘Balada Dokter Kontrak’ terasa pas menemani kesunyianku di daerah sangat terpencil lokasi PTT ku.

Pertama kali menyandang gelar dokter, tentu saja aku senang, meskipun hanya sesaat. Wisuda dokter hari itu sangat berarti bagiku, perjuangan pendidikan strata satu selama 3 tahun yang dilanjutkan koass 2 tahun terbayarkan dengan dipanggilnya namaku ke depan untuk diberi sehelai kertas bernama ijazah. Yah meskipun sehari tetap saja hal itu sangat berarti. Perjuangan belum selesai, sejak tahun 2001, dimulailah sebuah awal yang baru dengan mewajibkan dokter mengikuti dan lulus ujian kompetensi dokter sebagai syarat bisa melakukan praktik kedokteran yang dikenal kalangan teman sejawat UKDI. Sebagai dokter yang patuh kepada peraturan, UKDI pun kujalani dan alhamdulillah persiapan 3 bulan sudah cukup bagiku untuk lulus. Senang dan haru bercampur dengan kelulusanku, kupandangi hasil ujianku. Terimakasih Ya Allah, nilaiku 51. Waktu itu nilai batas kelulusan 50. Hampir saja tidak lulus, kuhampiri seorang teman yang tidak bisa menutupi kesedihannya, nilainya 49 masya Allah. Dia harus ikut ujian ulang, padahal Cuma beda poin dari nilaiku. Yah, begitulah Allah memberikan skenarionya kepada setiap hambanya, semuanya bukan kebetulan. Kubersyukur dengan kelulusan ini, saya pun yakin teman yang tidak lulus tadi akan diberikan jalan yang lebih baik.

Bulan Februari 2010, kuputuskan untuk mendaftar dokter PTT pusat Departemen Kesehatan. Kata dokter senior, menjadi dokter PTT akan memberikan pengalaman hidup yang besar, melatih skill kedokteran kita di tengah keterbatasan dalam segala hal. Selain itu, lanjut senior. Persyaratan untuk melanjutkan dokter spesialis sangat diutamakan dokter yang sudah menjalani PTT dengan melampirkan surak sakti bernama SMB (Surat Masa Bakti). Sebagian besar dokter fresh graduate menjalani jalur ini sebagai dokter PTT untuk kemudahan biaya dan skoring masuk pendidikan spesialis dan sebagian lagi memilih untuk melanjutkan pendidikan spesialis tanpa menjalani pengabdian sebagai dokter PTT yang tentunya dengan biaya selangit.

 Singkat cerita, akhirnya bisa sampai di lokasi PTTku. Puskesmas Pakue Utara Kecamatan Pakue Utara, Kabupaten Kolaka Utara Provinsi Sulawesi Tenggara. Daerah ini berbatasan dengan Sulawesi Selatan, kira-kira lewat darat ditempuh selama 16 jam dari makassar atau dari kendari menempuh perjalanan darat sekitar 8 jam. Selain lewat darat, ke daerah ini bisa juga ditempuh dengan perjalanan laut menggunakan kapal ferry sekitar 3 jam perjalanan laut. setiba di lokasi, sangat beruntung bagi saya karen diberikan fasilitas rumah dinas kosong, benar-benar kosong. Rumah permanen dengan 2 kamar tidur tanpa tempat tidur, kucari sakelar lampu. Percuma saja cari sakelar lampu karen bola lampu tidak ada dan menurut warga sekitar memang daerah ini tidak ada listrik. Hehhehe. Daripada termenung memikirkan listrik, mending cuci muka dulu biar segar. Kubuka kran air. Loh, air tidak mengalir. Uwalah... musibah apa ini, tidak ada listrik, air pun tidak ada. Kuambil hp ku dari saku, mau menghubungi dokter di lokasi lain. Busyet... sinyalpun tidak ada. Kembali kutermenung meratapi nasib sebgai dokter PTT di tempat terpencil, tanpa listrik, tanpa sinyal, tanpa air, jalur transportasi susah, cari makanpun jauh. Lengkaplah sudah.

Situasi lokasi PTT seperti ini tidak membuatku menyerah. Selama 1 bulan pertama, mandi dan mencuci dilakukan di rumah penduduk yang berjarak 200 meter dari rumah dinas, sepulang mandi saya angkat air untuk keperluan di rumah dinas. Begitulah rutinitas setiap harinya sambil berfikir keras solusi kedepannya. Dan betul saja kata orang, fikiran jernih solutif tidak didapatkan di saat hati gundah dengan keluhan-keluhan tentang keadaan. Solusi itu datang dari berfikir jernih sambil berdoa kepada Allah SWT. Satu per satu saya temukan solusinya. Dalam waktu 2 bulan semua bisa teratasi. Untuk keperluan listrik, saya memperbaiki ganset puskesmas yang rusak, keperluan air tercukupi dengan mencari tukang bor untuk puskesmas. Dengan biaya 500 ribu, tukang bornya ikhlas menerima. Karena air tanahnya sangat kotor dan mngandung banyak besi, saya meminta bantuan warga mencarikan kerikil, pasir, arang, ijuk untuk membuat saringan air bersih. Alhamdulillah, air ini saya konsumsi dan saya gunakan untuk keperluan sehari-hari di rumah dinas. Puskesmas juga mendapatkan manfaat dari bor pipa ini. Untuk sinyal HP, kebetulan ada teman yang menawari untuk menggunaka antena penangkap sinyal buatannya, alhamdulillah dengan mengeluarkan kocek 200 ribu antena penangkap sinyal sudah jadi dan terpasang di rumah dinas. Kulekatkan kabel antena dengan HP Sony Ericson-ku membuatnya tidak berhenti berbunyi tanda sms masuk. Iya, sudah sebulan ini sms banyak pending karena sinyal tidak ada. Bahagia sekali rasanya. Proses pelayanan kesehatan masyarakat tidak lagi terkendala. Saya dengan senang bisa melaksanakan kewajiban dokter PTT, melayani masyarakat kecamatan Pakue Utara kabupaten Kolaka Utara provinsi Sulawesi Tenggara.

Gambar 1. kegitana puskesmas keliling


Gambar 2. foto di depan puskesmas pakue utara
Gambar 3. Foto dalam ruangan puskesmas pakue utara

Gambar 4. berfoto depan perumahan
Gambar 5. Pompa air sederhana dengan bak penyaring






Tidak ada komentar:

Posting Komentar